Tuesday, April 27, 2010

TRADISI ISLAM


Seperti katak dalam tempurung. Barangkali inilah analogi yang paling absah untuk meneropong pergolakan pemikiran dunia pendidikan Islam. Sebab kerangka epistemologis yang bergulir di dalamnya masih mengandaikan ‘sesuatu dalam dirinya’ yang tak boleh dijamah.
Sementara pendidikan Islam, sebagai wahana pendalaman yang tergeletak dalam institusi akademis, dituntut untuk mempersepsi khazanah Islam dari disiplin ilmu yang tak harus disembunyikan dari telaah kritis. Sehingga dalam banyak persoalan meniscayakan sebuah penelusuran epistemologis yang integral tanpa dikotomi disipliner. Dalam hal ini, fenomena demikian menjadi sebuah paradigma yang tumpang tindih. Sebab senyatanya kedua fenomena tersebut sampai fase ini tak dapat didamaikan.
Pengukuhan doktrin dengan tidak beranjak dari perbincangan lama, disadari atau tidak, akan berakhir dengan pengebirian pola pikir dan pemenjaraan daya kritis. Realitas inilah yang memposisikan para akademisi sebagai manusia ruang dalam tempurung masa lalu.
Namun demikian, Islam --yang ditipikal-- sebagai agama langit, memang tidak dapat melepas dua kecenderungan yang seringkali dipertentangkan dan dipisahkan. Yaitu aspek normativitas dan dimensi historisitas. Di atas normativitasnya, Islam diletakkan sebagai dasar nilai yang harus diyakini dan dianut. Ia dijadikan sebagai aturan baku berbagi perilaku keberagamaan. Sementara dimensi historisitas merupakan perjalanan kesejarahan yang dapat dipelajari dan ditelaah secara disipliner. Dari berbagai sisi dimensi historisitas ini seringkali lebih mendapat ruangnya untuk selalu disejajarkan dengan realitas. Sehingga didomain akademis, ia tak mempunyai persoalan.
Akan tetapi, akankah aspek normativitas tetap disembunyikan, dipilih sebagai yang tak terkatakan (unspeakable)? Domain inilah yang sampai saat ini masih menyisakan beban epistemologis. Sebab dalam anggitan keilmuan disipliner, apapun harusnya dapat ditelaah secara historis rasionalistik. Bukannya dipilah-pilah, bahwa ‘yang itu’ dapat dikritisi dan ‘yang ini’ tidak boleh. Nalar akademis yang sekali lagi, masih mengukuhkan nalar abad tengah ini harus disadari sebagai sisa hasil sejarah ortodoksi.
Ortodoksi adalah fenomena masa khilafah yang terisi oleh tarik ulur kuasa politik dengan menggunakan legitimasi interpretasi agama sebagai ideologi dasar mempengaruhi umat Islam. Yang terlahir kemudian kelompok-kelompok dan sekte-sekte berbeda-beda yang berartikulasi mencari klaim kebenaran dalam mempersepsi Tuhan dan menghadirkan masa kenabian.
Dengan demikian, Islam yang saat ini ada tidak lebih dari konstruksi kebenaran masa itu. Baik yang menggunakan paradigma burhani, bayani maupun Irfani. Dalam posisi demikian IAIN sebagai representasi institusi pendidikan Islam ikut pula mewarisi narasi besar abad tengah sebagai landasan epistemologi.
Tetapi diatas segalanya, mengedepankan pemahaman bahwa berkutat pada diskursus lama hanya akan menambah kejumudan epistemilogi pemikiran dan pendidikan Islam. Sehingga kontekstualisasi doktrin beserta kritik atasnya menjadi sebuah keniscayaan.
Memilih tema besar berupa Kritik Terhadap Rancang Bangun Pendidikan Islam sesungguhnya merupakan pekerjaan yang amat sulit. Kesulitannya tidak hanya terletak pada pemilihan pada kerangka metodologis untuk mendekati Islam secara kritis. Tapi lebih pada bagaimana memposisikan kritik ini dalam lokal genius paradigma pemikiran Islam di Indonesia yang terlanjur baku dan beku. Karena berbagai tantangan justru lahir dari dalam, bila tetap memaksakan paradigma kritis untuk menelaah wacana agama dari sudut pandang yang berbeda. Bahkan lebih parah, pengguna metodologi sosiologia-antropologis tidak jarang mendapat klaim kafir dan murtad.
Kritik bukan berarti menghapus begitu saja bangunan tradisi yang telah kita warisi. Sebaliknya, ia menjadi alternatif cerdas memposisikan tradisi sebagaimana mestinya. Sehingga tradisi tidak hanya terglorifikasi dalam perilaku keagamaan masa kini, tetapi dapat dihidupkan dan diperbaharui. Sesuai dengan Islam yang ‘Rahmatan lil Alamin’. Selanjutnya selamat berpikir dan membaca

No comments:

Post a Comment